Minggu, 11 Desember 2011

Museum Kereta Api Ambarawa

Letaknya di Kota Ambarawa, sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Semarang atau Jogjakarta. Letaknya yang mudah terjangkau, menjadikan Museum Kereta Api Ambarawa menjadi obyek wisata andalan kota tersebut. Apabila petualang dari arah Semarang, akses jalan yang harus dilewati hanya menuju selatan ke arah Ungaran lalu setelah sampai pertigaan Bawen silakan menuju ke arah Jogjakarta (belok kanan) menuju tugu Palagan Ambarawa. Apabila dari Jogjakarta, petualang hanya perlu berjalan lurus menuju arah Semarang dan langsung ke pertigaan tugu Palagan Ambarawa. Setelah sampai di tugu Palagan Ambarawa, petualang langsung saja belok kiri (arah Semarang) atau kanan (arah Jogja), nah sekitar 100 meter lagi sudah sampai di museum Kereta Api Ambarawa.


Untuk Jalur dari arah Solo petualang dapat melewati jalur alternatif  langsung menuju belakang Museum Kereta Api Ambarawa. Petualang dapat melewati jalur Blotongan – Banyubiru – Ambarawa dengan pemandangan pegunungan Telomoyo yang sangat indah disebelah kanan juga luasnya Rawa Pening (petualangan selanjutnya) yang eksotis di sisi kiri. Apabila menghendaki jalur lain, petualang bisa melewati Jalur Salatiga – Tuntang (Jembatan belok kiri) – Ambarawa. Dengan pemandangan kebun kopi di sisi kanan dan hanyutan air di Rawa Pening di sebelah kiri.

Sebenarnya apa itu Museum Kereta Api Ambarawa? Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api lama peninggalan Hindia Belanda yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum yang letaknya di Kota Ambarawa, Jawa Tengah. Yang memiliki kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada zamannya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata.
Parkirnya yang luas sehingga mudah di akses dengan motor, mobil atau bus sekalipun. Tiket masuk baik dewasa maupun anak-anak cukup terjangkau, petualang hanya membayar  Rp. 5.000,-/ orang. Apabila ingin naik kereta wisata, tips : silakan untuk membeli tiket kereta wisata dahulu sebelum explore  dan jalan-jalan disekitar museum.
Nah, sekarang coba untuk explore sejenak dari museum Kereta Api. Selain untuk wisata keluarga juga hitung-hitung belajar sejarah perkeretaapian Indonesia.
Nama : B2220.
Seri dulu : NIS (Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij ) 306. Bahan bakar : kayu. Buatan : Cachisotk MF Chemnits. Mulai beroperasi tahun 1900. Kecepatan maksimal 50km/jam. Radius minimum kurang dari 1000. Panjang lokomotof 7.850meter, lebar lokomotif 2.410meter. Letaknya ada disebelah kanan Museum Kereta Api. Kereta ini merupakan salah satu dari beberapa kereta yang banyak digunakan untuk berofoto ria oleh para Petualang.
Nama: SS (Staatsspoorwegen) 1110.  Seri Sekarang C 2728. Bahan Bakar : Residu. Dibuat oleh Weks Spoor Amsterdam. Mulai Operasi tahun 1919. Kecepatan 80km/jam. Radius Minimum 140. Tenaga pada rel : 650 tenaga kuda. Panjang Lokomotif : 12.790meter. Lebar Lokomotif 2.620meter. Letaknya agak dibelakang Museum Kereta Api berada disebelah kanan dekat dengan Kantin dan Mushola. Karena letaknya agak jauh, jadi Petualang harus mencoba untuk memutari seluruh Area Museum.
Nama : C 2407
Seri Dulu : NIS (Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij ) 271. Bahan bakar : Residu. Dibuat oleh Weks Spoor Amsterdam. Mulai beroperasi tahun 1901. Kecepatan maksimal 60km/jam. Radius minimum 140. Tenaga pada rel sama dengan 575 tenaga kuda. Panjang lokomotif 9.800meter dengan lebar 2.870meter.
Terletak persis di dekat kereta nomor  B2220. Hanya lebih kebelakang sedikit. Beberapa Patualang sering mengabadikan gambar kereta ini. Karena bentuknya yang unik dan besar jadi terasa sangat indah. Karena ketinggian kereta di atas rata-rata kaki orang Indonesia, jadi selalu hati-hati ketika hendak naik ke atas kereta.
…………
Nama : C 1240
Seri dulu : SS (Staatsspoorwegen) 400. Bahan bakar : kayu. Dibuat oleh Hartmann Chemnits. Mulai beroperasi tahun 1896. Kecepatan maksimal 55km/jam. Radius minimum 170. Tenaga pada rel 350 kecepatan kuda. Dengan panjang lokomotif 8.578meter dan lebar 2.450meter.
Bentuknya yang unik berbeda dengan kereta lain yang lebih cenderung berbentuk tabung di bagian Lokomotif. C 1240 lebih banyak bernentuk persegi atau balok. Bentuk yang teramat besar dan kotak memberi gambaran bahwa kereta ini mampu melaju dengan cepat dimasanya. Ruang bahan bakar yang besar, mampu dimuat oleh balok-balok kayu yang sangat banyak sehingga tidak kereta dapat melaju dengan mudah dan cepat.
Nama : C 2821.
Seri Dulu : SS (Staatsspoorwegen) 1300. Bahan bakar : Residu. Buatan : Henshel/Shassel. Digunakan pertama tahun 1921. Kecapatan maksimal 90km/jam. Radius minimum 140. Tenaga pada rel sama dengan 1050 tenaga kuda. Memiliki panjang lokomotif 13.015meter dan lebar 3020meter. Kereta ini salah satu yang menjadi unggulan utama transportasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda untuk mengangkut bahan menta dari perkebunan sampai ke gudang dekat dengan Pelabuhan.
Ini adalah mesin pembuat tiket penumpang jaman dulu. Digunakan sejak tahun 1840 yang dibuat dan diciptakan oleh Thomas Edmunson. Thomas Edmunson adalah seorang ahli pembuat lemari, dan ketika dia menciptakan mesin tiket, dia angkat menjadi kepala stasiun di New Castle dan Carlisie di perusahaan Kereta Api Manchester dan Leeds di Inggris.
Di Indonesia, mesin tiket edmunson digunakan pada era Hindia Belanda dan NIS (Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij ) pada tahun 1867 untuk mencetak tiket lintas kota Semarang – Solo – Jogjakarta. Tahun 1873 digunakan untuk jalur Batavia – Bogor, dan pada tahun 1878 digunakan oleh SS (Staatsspoorwegen) untuk lintas Surabaya – Pasuruan. Mesin ini digunakan oleh Indonesia untuk membuat tiket terutama tiket Kereta Ekonomi, KRL dan Kereta dalam propinsi hingga tahun 2009.. Hmm, lama juga..
Jalur rel 3ft 6in (1067 mm) terhadap Yogyakarta (membentang dari selatan ke barat melalui Ambarawa) merupakan yang menarik karena melewati Jambu dan Secang, satu-satunya yang masih beroperasi di Jawa. Jalur rel luar Bedono ditutup pada awal tahun 1970 setelah rusak akibat gempa. Jalur rel dari Kedungjati (dari timur yang awalnya dari Ambarawa) selamat ke pertengahan 1970-an tapi tidak diapakai karena lebih banyak masyarakat menggunakan angkutan umum yang lain.
Rel ini hanya dipajang untuk bukti peraga pendidikan dan digunakan untuk Kereta Wisata Museum Kereta Api. Rel yang berasal dari museum Kereta Api masih terawat sangat baik oleh pihak pengelola, hal itu dibuktikan dengan jalur yang masih nyaman dan aman digunakan untuk menampung puluhan Petualang yang menaiki Kereta Wisata dari Museum Kereta Api mejuju pinggiran Ambarawa hingga Rawa Pening.
Ini adalah mesin hitung yang digunakan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pada masa lalu, mesin ini merip kalkulator di masa sekarang. Dengan mesin ini, dapat dihitung berapa keuntungan yang masuk dari hasil Kereta Api.
Beberapa alat komunikasi yang lain masih sangat baik berada di Museum Kereta Api Ambarawa. Selain mesin hitung, ada beberapa jenis dan model telepon dari berbagai masa ke masa. Dari telepon seperti kotak pos surat hingga telpon putar (onthel) ada di Museum ini. Bahkan telegraf masih ada di Museum bersama dengan berbagai alat perkeretaapian seperti lonceng kereta dan peluit petugas Rel.
……
Ini adalah roda kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. Rel bergigi masih di temui di sepanjang jalur Ambarawa. Hebat bukan?
Rel yang masih tersisa bisa Petualang temukan bila hendak menuju Jogjakarta berada disisi sebelah kiri. Rel ini masih sangat bagus dan baik. Dengan model rel dan roda bergigi tersebut, kereta mampu berjalan naik ke arah perbukitan yang tinggi. Dengan keseimbangan pergerakan roda kanan dan kiri dibantu oleh tenaga yang berasal dari lokomitif, lalu dibantu pengereman gerigi bagian tengah yang mampu menahan kereta dari pergerakan tak terduga akibat gaya gravitasi sehingga kereta mudah untuk berjalan di jalanan yang menanjak.
Dengan hanya membayar Rp. 10.000,-, petualang dapat menikmati alam yang indah dari kota Ambarawa. Melewati areal persawahan dan melihat Rawa Pening dari dekat. Perjalanan kereta wisata ini memakan waktu sekitar 45 minit Pulang – Pergi. Kereta Wisata ini hanya beroperasi sampai jam 3pm, jadi apabila ingin naik silakan beli dan sabar menunggu kereta datang. Jangan sampai kehabisan yaa. Ketika Kereta datang, dan langsung di naiki para petualang. berangkat penuh dan sesak, namun suasana gembira ceria bersama keluarga menghiasi wajah para petualang. Walau mendung, tak jadi masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar