Museum Kereta Api Ambarawa
Letaknya di Kota Ambarawa, sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Semarang atau Jogjakarta. Letaknya yang mudah terjangkau, menjadikan Museum Kereta Api Ambarawa menjadi obyek wisata andalan kota tersebut. Apabila petualang dari arah Semarang, akses jalan yang harus dilewati hanya menuju selatan ke arah Ungaran lalu setelah sampai pertigaan Bawen silakan menuju ke arah Jogjakarta (belok kanan) menuju tugu Palagan Ambarawa. Apabila dari Jogjakarta, petualang hanya perlu berjalan lurus menuju arah Semarang dan langsung ke pertigaan tugu Palagan Ambarawa. Setelah sampai di tugu Palagan Ambarawa, petualang langsung saja belok kiri (arah Semarang) atau kanan (arah Jogja), nah sekitar 100 meter lagi sudah sampai di museum Kereta Api Ambarawa.
Parkirnya yang luas sehingga mudah di akses dengan motor, mobil atau bus sekalipun. Tiket masuk baik dewasa maupun anak-anak cukup terjangkau, petualang hanya membayar Rp. 5.000,-/ orang. Apabila ingin naik kereta wisata, tips : silakan untuk membeli tiket kereta wisata dahulu sebelum explore dan jalan-jalan disekitar museum.
Nah, sekarang coba untuk explore sejenak dari museum Kereta Api. Selain untuk wisata keluarga juga hitung-hitung belajar sejarah perkeretaapian Indonesia.
Seri dulu : NIS (Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij ) 306. Bahan bakar : kayu. Buatan : Cachisotk MF Chemnits. Mulai beroperasi tahun 1900. Kecepatan maksimal 50km/jam. Radius minimum kurang dari 1000. Panjang lokomotof 7.850meter, lebar lokomotif 2.410meter. Letaknya ada disebelah kanan Museum Kereta Api. Kereta ini merupakan salah satu dari beberapa kereta yang banyak digunakan untuk berofoto ria oleh para Petualang.
Seri Dulu : NIS (Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij ) 271. Bahan bakar : Residu. Dibuat oleh Weks Spoor Amsterdam. Mulai beroperasi tahun 1901. Kecepatan maksimal 60km/jam. Radius minimum 140. Tenaga pada rel sama dengan 575 tenaga kuda. Panjang lokomotif 9.800meter dengan lebar 2.870meter.
Terletak persis di dekat kereta nomor B2220. Hanya lebih kebelakang sedikit. Beberapa Patualang sering mengabadikan gambar kereta ini. Karena bentuknya yang unik dan besar jadi terasa sangat indah. Karena ketinggian kereta di atas rata-rata kaki orang Indonesia, jadi selalu hati-hati ketika hendak naik ke atas kereta.
…………
Seri dulu : SS (Staatsspoorwegen) 400. Bahan bakar : kayu. Dibuat oleh Hartmann Chemnits. Mulai beroperasi tahun 1896. Kecepatan maksimal 55km/jam. Radius minimum 170. Tenaga pada rel 350 kecepatan kuda. Dengan panjang lokomotif 8.578meter dan lebar 2.450meter.
Bentuknya yang unik berbeda dengan kereta lain yang lebih cenderung berbentuk tabung di bagian Lokomotif. C 1240 lebih banyak bernentuk persegi atau balok. Bentuk yang teramat besar dan kotak memberi gambaran bahwa kereta ini mampu melaju dengan cepat dimasanya. Ruang bahan bakar yang besar, mampu dimuat oleh balok-balok kayu yang sangat banyak sehingga tidak kereta dapat melaju dengan mudah dan cepat.
Seri Dulu : SS (Staatsspoorwegen) 1300. Bahan bakar : Residu. Buatan : Henshel/Shassel. Digunakan pertama tahun 1921. Kecapatan maksimal 90km/jam. Radius minimum 140. Tenaga pada rel sama dengan 1050 tenaga kuda. Memiliki panjang lokomotif 13.015meter dan lebar 3020meter. Kereta ini salah satu yang menjadi unggulan utama transportasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda untuk mengangkut bahan menta dari perkebunan sampai ke gudang dekat dengan Pelabuhan.
Di Indonesia, mesin tiket edmunson digunakan pada era Hindia Belanda dan NIS (Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij ) pada tahun 1867 untuk mencetak tiket lintas kota Semarang – Solo – Jogjakarta. Tahun 1873 digunakan untuk jalur Batavia – Bogor, dan pada tahun 1878 digunakan oleh SS (Staatsspoorwegen) untuk lintas Surabaya – Pasuruan. Mesin ini digunakan oleh Indonesia untuk membuat tiket terutama tiket Kereta Ekonomi, KRL dan Kereta dalam propinsi hingga tahun 2009.. Hmm, lama juga..
Rel ini hanya dipajang untuk bukti peraga pendidikan dan digunakan untuk Kereta Wisata Museum Kereta Api. Rel yang berasal dari museum Kereta Api masih terawat sangat baik oleh pihak pengelola, hal itu dibuktikan dengan jalur yang masih nyaman dan aman digunakan untuk menampung puluhan Petualang yang menaiki Kereta Wisata dari Museum Kereta Api mejuju pinggiran Ambarawa hingga Rawa Pening.
Beberapa alat komunikasi yang lain masih sangat baik berada di Museum Kereta Api Ambarawa. Selain mesin hitung, ada beberapa jenis dan model telepon dari berbagai masa ke masa. Dari telepon seperti kotak pos surat hingga telpon putar (onthel) ada di Museum ini. Bahkan telegraf masih ada di Museum bersama dengan berbagai alat perkeretaapian seperti lonceng kereta dan peluit petugas Rel.
……
Rel yang masih tersisa bisa Petualang temukan bila hendak menuju Jogjakarta berada disisi sebelah kiri. Rel ini masih sangat bagus dan baik. Dengan model rel dan roda bergigi tersebut, kereta mampu berjalan naik ke arah perbukitan yang tinggi. Dengan keseimbangan pergerakan roda kanan dan kiri dibantu oleh tenaga yang berasal dari lokomitif, lalu dibantu pengereman gerigi bagian tengah yang mampu menahan kereta dari pergerakan tak terduga akibat gaya gravitasi sehingga kereta mudah untuk berjalan di jalanan yang menanjak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar